Sunday, 3 May 2015

Bagaimana Menyentuh Hati: Tiga Karakteristik Manusia

Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiyah
Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti ini harus dinomborsatukan, karena mereka lebih dekat dengan da’wah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.

2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.

Bagaimana Menyentuh Hati: Tugas Kita

Dalam memberikan arahan (taujih) tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya,

“Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga elektrik. Para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran elektrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika  aliran elektrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga elektrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit elektrik, hanya saja tenaga elektrik yang ada itu tidak dimanfaatkan.”

Demikianlah, Allah swt. telah menurunkan Al Qur’an Al-Karim kepada kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Metode Dakwah Rasulullah saw

Dakwah mengajak kepada Allah adalah sebaik-baik aktifitas dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah. Dakwah dalam maknanya yang luas adalah mengajak manusia yang belum berislam untuk berislam dan menjalankan kewajibannya kepada Allah secara totalitas. Secara umum ia juga adalah mengeluarkan manusia dari tradisi kejahiliyyaan kepada cahaya tradisi Islam yang terang-benderang. Inilah aktifitas yang dahulu pernah dilakukan oleh para rasul dan nabi. Kemudian dilanjutkan oleh para pewaris mereka sepanjang sejarah.


Demikian pula dakwah menyeru kepada kebaikan Islam secara konprehensif ini juga sampai kepada kita yang hidup di era modern sekarang. Keadaan zaman yang terus berkembang dan budaya manusianya yang juga terus berubah, tidak justru menyebabkan dakwah itu harus  mati dan kehilangan jati dirinya. Dakwah tetaplah dakwah. Tapi yang harus diperhatikan adalah  manusianya sebagai pelaku utama, uslub dan manhajnya yang harus dipelajari. Hal ini dimaksudkan dalam rangka agar dakwah ini tetap berada dalam garis perjuangan risalah yang sebenarnya. Tidak menyimpang apalagi keluar dari misi suci yang sebenarnya.