Masyarakat Jawa, sebagaimana masyarakat suku lainnya, memiliki tata
cara kehidupan dan budaya yang khas. Akan lebih tepat bagi para aktivis
dakwah yang melakukan kegiatan dakwah untuk masyarakat Jawa, apabila
mengetahui berbagai budaya yang mereka miliki. Ajaran hidup dan budaya
masyarakat Jawa, sudah banyak diungkapkan dalam bentuk pitutur luhur
atau pepatah dan kalimat hikmah.
Pada kesempatan kali ini, kita
mencoba mempelajari satu pitutur luhur yang menggambarkan watak
rata-rata masyarakat Jawa. Pitutur itu berbunyi, “Yen Agal Ngungkuli Watu Yen Alus Ngungkuli Banyu”. Makna Pitutur Pepatah di atas secara harfiah bermakna, apabila keras (kasar) melebihi batu dan apabila halus (lembut) melebihi air.
Secara
spesifik sebenarnya pepatah ini mengacu atau diacukan pada perwatakan
umum para kesatria Pendawa yang dalam konteks tertentu sering
diibaratkan sebagai perwatakan orang Jawa. Secara umum, para kesatria
Pendawa jika keluar watak keras atau kasarnya akan bisa menjadi sangat
keras seperti batu atau bahkan kasar melebihi apa pun. Demikian pula
jika keluar watak lembut atau halusnya, bisa sangat halus melebihi air.
Sikap itu dipengaruhi oleh stimulan atau faktor-faktor luar yang
menyebabkannya menjadi demikian.